Jadilah Sahabat Bumi

mari kita lindungi bumi

HUTAN INDONESIA BISA TURUNKAN SUHU BUMI

[NUSA DUA] Indonesia berpotensi mengurangi suhu bumi secara global sebesar rata-rata 0,4 derajat celsius jika berhasil melakukan reforestasi (penghutanan kembali, Red) dalam jangka waktu 100 tahun ke depan.
Ahli Meteorologi dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, di sela-sela Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, di Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12), mengatakan dengan asumsi sampai 2110 Indonesia berhasil melakukan reforestasi seluas 75,95 juta hektare, volume karbon yang berhasil diserap oleh hutan di Tanah Air sejumlah 58,1 giga ton dari total emisi karbon saat itu yang diperkirakan mencapai 156,86 giga ton.
Selain berdampak pada penurunan suhu bumi secara global, model reforestasi juga diyakini bisa mengurangi suhu udara di wilayah Indonesia sebesar rata-rata 4,26 derajat celsius. “Artinya dari penyerapan sebesar itu, Indonesia telah berkontribusi sebesar 37 persen dalam pengurangan emisi global,” ujar Armi.
Penelitian ini, menurut Armi, merupakan suatu terobosan bagus saat semua penelitian yang selama ini dikerjakan menunjukkan terjadinya peningkatan suhu bumi dari tahun 1900-2100 sebesar 6 derajat celsius. Namun jika reforestasi oleh Indonesia dilakukan sesuai dengan skenario yang ada, perubahan suhu udara global hanya mencapai rata-rata 5,6 derajat celsius.
Jika dikonversikan dengan biaya, program reforestasi Indonesia berpotensi menyelamatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sebesar US$ 940 miliar sampai US$ 1.890 miliar. Menurut Armi, penelitian yang melahirkan permodelan iklim tersebut didasarkan atas beberapa asumsi, seperti tidak terjadinya perubahan tata guna lahan di dalam dan luar negeri.
Penting
Sementara itu, Juru Bicara Ikatan Alumni ITB DKI Jakarta, Aulia Prima Kurniawan menyatakan hutan Indonesia memegang peranan sangat penting dalam siklus karbon dunia. Hutan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam berbagai vegetasi dan tanah. Pertukaran karbon dengan atmosfer, kata Aulia, terjadi melalui proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi hutan pun dapat menjadi sumber karbon bagi atmosfer ketika hutan rusak, baik karena ulah manusia, seperti prosedur panen yang salah, penebangan liar dan konversi hutan dengan cara pembersihan dan pembakaran tanaman hutan, maupun kejadian alam, seperti kebakaran hutan.
Saat ini Indonesia merupakan negara kedua dengan jumlah hutan tropis terluas di dunia, setelah Brasil. Jumlah luas areal hutan di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 93,92 juta hektare.
Jika dibandingkan dengan luasan hutan tahun 1985 maka terjadi penurunan luasan hutan sebesar 25,78 juta hektare, dengan laju penurunan sebesar rata-rata 1,37 persen per tahun pada periode 1985 sampai 1997 dan 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005.
“Berdasarkan penelitian laju kehilangan hutan di Indonesia mencapai 17 persen dari tahun 1985 sampai 1997 atau setara dengan 1,64 juta hektare per tahun,” tuturnya. [E-7]

Filed under: Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Sebab Dan Akibat

KOMPUTER ANDA JUGA MENYEBABKAN GLOBAL WARMING

Tahukah Anda bahwa Anda juga mengakibatkan global warming hanya dengan membaca artikel ini dari monitor Anda?Atau bahwa server ukuran medium menghasilkan emisi karbon sama dengan sebuah SUV yang melaju sejauh 15 mil?Anda sudah sepantasnya untuk memahami bahaya laptop maupun komputer Anda terhadap lingkungan. Karena menurut organisasi Inggris, yaitu Global Action Plan, industri Teknologi Komputer dan Informasi akan melampaui industri penerbangan dalam hal emisi karbon dioksida. Berikut ini adalah beberapa highlight mengenai makalah berjudul ”An Efficient Truth” :
Gartner, perusahaan ICT, mengestimasikan bahwa pembuatan peralatan ICT, penggunaannya dan pembuangannya menghasilkan sekitar 2 persen dari emisi CO2 global yaitu sama dengan industri penerbangan.
Pusat server dan data menjadi salah satu bagian integral dalam bisnis. Namun, seiring dengan ukuran dan kapasitas server yang bertambah, maka energi yang dikonsumsi juga bertambah.
Kebutuhan energi yang intensif dibutuhkan untuk menjalankan dan mendinginkan pusat data yang menghasilkan seperempat dari emisi CO2 pada sektor ICT.
Proses produksi komputer sangat membutuhkan energi yang intensif. Belakangan terdapat studi di United Nations University of Tokyo yang menemukan bahwa produk elektronik mengkonsumsi sekitar 95% minyak bumi ketika digunakan. Sementara itu, 75% dari konsumsi energi PC terjadi ketika pertama kali dinyalakan.
Penelitian juga menemukan bahwa produksi dari sebuah PC membutuhkan 1.7 ton bahan baku dan air, serta mengkonsumsi minyak lebih dari sepuluh kali berat komputer.
Oleh karena itu, selamatkanlah bumi ini dengan mematikan komputer Anda ketika sedang tidak digunakan.

Filed under: Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global

PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL

1.) Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Apa sajakah yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca?
Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK (Gas Rumah Kaca) yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sector energi dan transport, penggundulan hutan , dan pertanian . Sementara, untuk gas rumah kac a lainnya (HFC, PFC, SF6 ) hanya menyumbang kurang dari 1% .

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca[3] (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Darimanakah emisi karbondioksida dihasilkan ?
Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan
bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):
- 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
- 27% dari sektor transportasi
- 21% dari sektor industri
- 15% dari sektor rumah tangga & jasa
- 1% dari sektor lain -lain.
Apakah penghasil utama emisi karbondioksida?
Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam.
Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun!
Kedua, pembakaran kendaraan bermotor. Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?

2.) Efek umpan balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

3.) Variasi Matahari
Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

Filed under: Bumi, Global Warming, Hutan, Kebakaran Hutan, Kerusakan Hutan, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Penebangan Liar, Polusi, Sebab Dan Akibat

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
Cuaca dan Iklim


Cuaca
Adalah kondisi harian gejala alam, seperti suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin, yang terjadi dan berubah dalam waktu singkat. Contoh: cerah berawan, hujan badai, dll.
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Iklim
Adalah pola cuaca umum yang terjadi selama bertahun-tahun dalam jangka waktu panjang, antara 30-100 tahun. Contoh: iklim tropis, sub-tropis, iklim panas, iklim dingin.
Apa sajakah dampak-dampak Perubahan Iklim?
Pada tahun 2100, temperatur atmosfer akan meningkat 1.5 – 4.5 derajat Celcius, jika
pendekatan yang digunakan “melihat dan menunggu, tanpa melakukan apa-apa” (wait
and see, and do nothing)!
Dampak-dampak lainnya:
- Musnahnya berbagai jenis keanekrag aman hayati
- Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
- Mencairnya es dan glasier di kutub
- Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena
kekeringan yang berkepanjangan
- Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun
2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 – 95 cm.
- Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral
bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
- Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
- Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah -daerah baru
karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
- Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus
pengungsian.
Tinggi muka laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Hewan dan tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Kesehatan manusia
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
El Nino
El Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, walaupun tidak selalu dengan pola yang sama. Ia merupakan gelombang panas di garis ekuator Samudera Pasifik. Kini, El Nino muncul setiap 2 – 7 tahun, lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat dirasakan di
seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benar -benar berhubungan. Para
ilmuwan menguji bagaimana Pemanasan Global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi Gas Rumah Kaca di atmosfer “membantu” menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El Nino muncul lebih sering dan lebih ganas dari sebelumnya.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, dampak pemanasan global merupakan ancaman yang sangat serius. Pada tahun 1997/1998, El Nino telah menyebabkan pemutihan karang secara luas di sejumlah wilayah seperti bagian timur Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok.
Peristiwa El Nino juga mengakibatkan terbakarnya kawasan hutan yang hampir seluas 10 juta ha (FWI, 2001). Sementara 80% dari kejadian tersebut terjadi di lahan gambut. Padahal lahan gambut merupakan penyerap emisi karbon terbesar di dunia. Akibat peristiwa ini, sebanyak 0,81-2,57 gigaton karbon dilepaskan ke atmosfer. Dampak lainnya terjadi ledakan penyakit malaria di Jawa dan Bali meningkat hampir tiga kali lipat, sementara di luar Jawa dan Bali peningkatan kasus malaria meningkat hingga 60% dari 1998 ke 2000.

Filed under: Bencana Alam, Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Sebab Dan Akibat

BIOGAS

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari zat-zat organik (namanya saja biogas) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Biasanya dalam pembuatan biogas digunakan kotoran dan urine dari hewan ternak, tetapi dimungkinkan juga memasukkan limbah organik seperti limbah tahu, tempe, dan yang lainnya ke dalam tabung.
Bahan-bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan kedap udara (digester) agar bakteri dapat membusukkan (memfermentasi) bahan-bahan tersebut yang kemudian dapat menghasilkkan gas (biogas). Setelah itu gas dapat dialirkan ke tabung penyimpanan gas atau juga bisa langsung digunakan. Komposisi gas dalam biogas mengandung :
Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu, biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
Limbah biogas yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) dapat digunakan sebagai pupuk organic yang kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik ini sudah dicoba pada beberapa tanaman dan hasilnya sangat baik.
Biogas memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Rata-rata seekor lembu menghasilkan kotoran sebanyak 30 kg.
Kotoran akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri Colly yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan Karbon dioksida (CO2) yang ikut memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang bermuara pada pemanasan global (global warming). Biogas memberikan perlawanan terhadap efek rumah kaca melalui 3 cara :
Pertama, Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan.
Kedua, Methana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran Methana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah Methana di udara.
Ketiga, dengan lestarinya hutan, maka akan CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca.

Filed under: Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Polusi, Sebab Dan Akibat

PAMERAN MOBIL “GLOBAL WARMING” DI BALI

Jakarta – Pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim/United Nations Frameworks for Climate Change Conference (UNFCCC) yang akan digelar di Nusa Dua, Bali pada 3 – 14 Desember 2007 ada pameran otomotif diikuti ATPM mobil.
Mereka memboyong berbagai produknya yang ramah lingkungan untuk dipamerkan pada ”Clean Air, Clean Fuel, Clean Vehicles,” program pendukung dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia).
Salah satu peserta, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) yang mengageni Mitsubishi di Indonesia memboyong mobil listrik i MiEV dan truk hibrida Canter Eco Hybrid yang akan dipamerkan di Bali Collection, tempat umum terbuka yang berlokasi di Nusa Dua, Bali.
Beberapa ATPM lain juga berpartisipasi dengan mempersembahkan teknologi serta kendaraan yang memiliki karakteristik ramah lingkungan. Masalah lingkungan harus dipikirkan oleh seluruh pihak, dan industri otomotif termasuk salah satu pihak yang harus bertanggung jawab untuk memikirkan solusi atas masalah ini.
”Pencegahan terhadap polusi lingkungan, pemanasan global, dan krisis bahan bakar fosil di mana produsen harus memikirkan energi alternatif untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” papar Fumio Kuwayama, Presiden Direktur KTB, di sela acara paparan keikutsertaan KTB di Bali, Selasa (27/11) di Jakarta. Menurutnya, energi alternatif ini tidak hanya menjadi solusi pengganti bahan bakar fosil namun secara bersamaan juga mengatasi semakin parahnya kerusakan lingkungan hidup. ”Kami menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa masih terdapat teknologi ramah lingkungan yang dapat diaplikasikan pada kendaraan bermotor yang dapat membantu menjadikan dunia tempat yang lebih baik untuk hidup,” imbuhnya.
Acara ini, tambahnya, menjadi tempat yang tepat untuk menunjukkan teknologi termutakhir dari dua principle office KTB, yaitu Mitsubishi Motor Corporation (MMC) dan Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corporation (MFTBC) dengan menunjukkan dua kendaraan ramah lingkungan dan efisien yaitu i MiEV dari MMC dan Canter Eco Hybrid dari MFTBC.
i MiEV
i MiEV (Mitsubishi innovative Electric Vehicle) adalah kendaraan bertenaga listrik penuh (fully electric) yang merupakan pengembangan dari desain unik ”i”(diluncurkan di pasar domestik Jepang pada Januari 2006) dengan tujuan mengurangi emisi CO2 dan sebagai kendaraan alternatif yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil.
Sejak November 2006, MMC telah melakukan riset kerja sama dengan perusahaan-perusahaanlistrik di Jepang dengan mengirimkan tiga unit i MiEV kepada tiga perusahaan listrik di Jepang yaitu: Tokyo Electric Power Co., The Chugoku Electric Power Co. Inc and Kyushu Electric Power Co. Inc.Perusahaan-perusahaan ini mengevaluasi dan menganalisa kemampuan praktis dan kompatibilitas isi ulang yang cepat (quick charge) dari kendaraan listrik ini, yang akan membantu pengembangan kendaraan-kendaraan tersebut lebih lanjut dan juga pengembangan infrastruktur bagi keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan kendaraan listrik. Di tahun mendatang, MMC merencakanan untuk mengirimkan lebih banyak i MiEV kepada lebih banyak perusahaan listrik untuk mendapatkan hasil riset yang lebih cepat sehingga dapat mewujudkan komersialisasi i MiEV pada 2010.
Huruf ”i” di depan kata MiEV adalah kependekan dari ”innovation”, maka ”i MiEV” memiliki 4 (empat) inovasi yang menyertainya yaitu: kemasan yang optimal; batere Lithium-ion berkapasitas tinggi;motor kecil efisiensi tinggi; dan tiga sistem ssi ulang. i MiEV yang menggunakan platform rear-midship layout dari kendaraan mini ”i,” Kendaraan ini mengganti mesin konvensional, transmisi dan tangki bahan bakar dengan sistem baterai lithium-ion, motor, inverter dan komponen kendaraan listrik lainnya.Wheelbase (sumbu roda) yang panjang, fitur dari layout rear-midship menyediakan ruangan yang cukup bagi pemasangan baterai lithium-ion berkapasitas tinggi di bawah lantai kendaraan. Hal ini juga memungkinkan penempatan motor dan inverter di bagian yang biasanya merupakan tempat di mana mesin dan transmisi konvensional berada. Kabinnya memastikan tersedianya ruang yang cukup lega bagi para penumpangnya (dengan kapasitas 4 penumpang) dan juga bagasi yang cukup memadai di bagian belakang. Pemasangan baterai dibawah lantai kendaraan membuat pusat gravitasi mobil ini menjadi rendah sehingga menghasilkan dinamika berkendara yang lebih stabil.Baterai pada kendaraan listrik harus memiliki kepadatan energi yang tinggi, dan ”i MiEV” menggunakan baterai Lithium-ion yang berkapasitas tinggi. Satu modul terdiri dari empat sel, sedangkan seperangkat baterai terdiri dari 22 modul. Berkat struktur dari unit baterai tersebut yang memungkinkan pemasangan dalam posisi vertikal ataupun melintang, maka tiap perangkat baterai berkapasitas tinggi tersebut dapat dipasang secara pas di bawah lantai kendaraan.Motor berefisiensi tinggi dapat dibuat lebih kecil daripada mesin berbahan baker bensin, namun tetap menghasilkan daya puntir yang tinggi pada pergerakan yang rendah. Motor ”permanent magnet synchronous” dari i MiEV yang kecil, ringan, sangat efisien memberikan kesan berkendara lebih sporty dan lebih tidak berisik serta lebih bertenaga dibandingkan mesin 660 cc turbo charge berbahan bakar bensin yang dimiliki oleh ”i”.i MiEV memiliki tiga cara pengisian baterai: sistem pengisian cara rumah tangga/household system(100V, 200V) untuk pengisian di rumah atau tempat parkir dan sistem pengisian ”quick-charger” bagi keperluan yang mendesak/cepat. Dengan sistem pengisian cara rumah tangga/biasa, listik ”i MiEV” dapat diisi dengan menggunakan daya 100V maupun 200V seperti biasa melalui steker charger yang terdapat pada sisi kanan kendaraan. Sedangkan sistem ”quick-charger” dapat dilakukan dengan menggunakan steker yang terletak pada sisi sebelah kiri kendaraan.

Filed under: Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Global Warming, Lingkungan, Pemanasan Global

PEMBUATAN DAN FORMULASI POLIBLEN PESICORN PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN

Deskripsi
Telah ditemukan suatu proses pembuatan dan formulasi poliblen pesicorn, yaitu plastik yang dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme dalam tanah . Bahan ini dimaksudkan sebagai salah satu alternatif mengatasi masalah sampah plastik yang merusak lingkungan, di samping alternatif lain seperti daur ulang, pemakaian kembali dan insinerasi.

Kegunaan
Untuk membuat poliblen pesicorn plastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme, yang dapat digunakan sebagai bahan kantong belanja, berbagai macam pengemas.

Keuntungan teknis/ekonomis
Formula dan proses pembuatannya sederhana, sehingga dapat menekan biaya produksi bahan jenis ini dengan demikian memungkinkan bahan ini diproduksi oleh industri untuk digunakan secara luas, sebagai pengganti bahan kantong plastik atau pengemas yang sukar terurai, dan bagi keperluan pertanian.
Bahan baku sangat mudah diperoleh di pasaran, sehingga tidak akan kesulitan penyediaan bahan untuk produk skala besar
Produk ini aman untuk pengemas makanan karena tidak mengandung zat beracun
Aman dalam pemrosesan karena bahan yang digunakan tidak corrosive

Filed under: Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan

TIPS MENGURANGI POLUSI AKIBAT BAHAN BAKAR

Kita pasti sering lewat kota. Jika kita sedang di kota, kita pasti sering terkena lampu merah. Di situ kita lihat banyak sekali kendaraan yang pastinya berhenti. Tetapi sayangnya ada yang mereka lupakan, yaitu mereka banyak membuang-buang bahan bakar yang sebagian besar itu adalah bahan bakar fosil yang tentunya kita tahu apa yang sedang terjadi pada bahan bakar itu. Selain itu, banyaknya kendaraan yang berhenti itu pasti juga mengeluarkan polusi yang dapat mengancam bumi kita termasuk kita sendiri.
Untuk itu aku punya tips nih! Walaupun ngga’ terlalu OK, tapi mungkin bisa ngurangin apa yang terjadi di lampu merah itu. Gini tips-nya :
Matikan kendaraan waktu di lampu merah.
Tapi jangan asal mematikan kendaraan di lampu merah. Lihat-lihat dulu apakah sudah mau hijau apa belum. kalau sudah mau hijau ya sebaiknya ga’ usah dimatikan aja. Oleh karena itu, tips ini disarankan kalau kita berada di traffic light yang ada timer-nya supaya kita bisa tahu kapan kita harus mematikan dan kapan kita harus menghidupkan lagi mesinnya.
Memang, kalau kita pikir tips ini kurang begitu banyak effeknya. Tetapi itu kalau hanya untuk 1 kendaraan bermotor. Tips ini mungkin bisa sukses jika banyak yang melakukannya. Sekarang kita hitung jika semua melakukannya. Rumusnya gini :
T = j x w x n
T = Total bahan bakar yang dibuang atau dihemat ( bahan bakar yang dibuat = bahan bakar yang dibuang)
j = Jumlah kendaraan yang ada di lapu merah (pasti sangat banyak, selain itu beda kendaraan beda yang dikeluarkan, makin besar makin banyak)
w = lama waktu lampu merah
n = jumlah lampu merah dalam sehari (berapa kali lampu merah menyala dalam sehari)
Itu hanya untuk sehari. Berapa kalau setahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun, dst.
Masalahnya lagi, jumlah polusi berbanding lirus dengan jumlah bahan bakar yang dibuang. Semakin banyak yang dibuang senakin banyak pula solusinya.
Mungkin hanya ini tips dariku, semoga ada manfaatnya.
SELAMAT MENCOBA !!!

Filed under: Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Sebab Dan Akibat

PEDULI BANJIR DAN PEMANASAN GLOBAL ERHALOGY KEMBANGKAN TEKNIK BIOPORI

Sampah rumah tangga yang selama ini disia-siakan pengelolaannya dan menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta, dapat dikendalikan, bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan menjadi lebih hijau, bersih, indah, nyaman dan aman.

Kepedulian PT Erhalogy , produk perawatan kesehatan kulit untuk wanita dan pria, ternyata tidak saja peduli dengan masalah kesehatan kulit, namun juga memiliki komitmen untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat sekitar.

Contohnya terhadap dampak negatif dari global warming terhadap alam dan lingkungan hidup. Bukti kepedulian sosial tersebut,ditunjukkan oleh Erhalogy dengan menggandeng Tim dari Departemen Arsitektur Lanskap-Faperta IPB untuk melakukan Penerapan Teknik Biopori di Pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan Jakarta.

Melalui penerapan lubang resapan dengan teknik Biopori ini, dapat dilakukan konservasi air, sehingga air dapat disimpan di dalam tanah. Diharapkan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan dan sebaliknya di musim hujan tidak banjir. Lebih jauh lagi, sampah rumah tangga yang selama ini disia-siakan pengelolaannya dan seringkali menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta, dapat dikendalikan, bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan menjadi lebih hijau, bersih, indah, nyaman dan aman.

Biopori ini sendiri ditemukan serta diperkenalkan oleh Ir. Kamir Raziudin Brata, MS. dari Institut Pertanian Bogor.

Biopori diciptakan untuk mengolah sampah rumah tangga yang berbentuk bahan organik menjadi kompos dengan cara yang sangat sederhana. Hanya dengan memendamnya dalam lubang tanah yang digali di pekarangan rumah!

Selain mengatasi masalah sampah, teknologi ini dapat memperbaiki struktur dan aerasi tanah, serta drainase lahan. Sehingga ketika turun hujan sebagian air dapat meresap ke dalam tanah melalui lubang-lubang Biopori, yang bisa mengatasi masalah banjir.

lubang biopori berisi cacing

lubang biopori berisi cacing
”Teknik Biopori memiliki berbagai keuntungan. Antara lain, sampah organik yang terkumpul di dalam lubang Biopori akan menjadi kompos setelah 3 sampai 4 minggu dalam tanah bila ditambah dengan larutan effective microorganism (EM),” ujar Dr. Tati Budiarti, anggota Tim dari Departemen Arsitektur Lanskap – Faperta IPB kepada rileks.com, Sabtu, 17/11-2007, di pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan Jakarta.

Hasil kompos tersebut tak hanya bisa digunakan untuk menyuburkan tanah pekarangan rumah namun bisa juga dipasarkan sehingga memberikan kontribusi pada pendapatan keluarga.

”Sebagai brand yang selama ini sangat peduli dengan masalah kesehatan kulit pada wanita dan pria, Erhalogy juga tidak menutup mata dengan masalah yang dihadapi masyarakat sekitar. Terutama menyangkut masalah lingkungan hidup seperti global warming,” tutur Djoko Kurniawan, Brand & CRM Manager – Erhalogy, kepada rileks.com .

Erhalogy juga memahami bahwa akibat efek pemanasan global tersebut masyarakat akan mengalami berbagai masalah yang cukup serius. Mulai dari kekeringan, banjir, hingga suhu yang makin memanas yang nantinya akan berdampak negatif pada kulit dan tubuh seseorang. Itu sebabnya Erhalogy merasa terpanggil untuk memberikan solusi pada masyarakat melalui kegiatan penerapan teknik Biopori ini,lanjut Djoko Kurniawan.

”Dana untuk kegiatan ini kami kumpulkan dari lelang foto dalam pameran yang yang bertajuk AgeposureAging Through The Eyes of 5 Photographers yang telah kami lakukan beberapa bulan lalu di Jakarta dan Bandung.”

Sketsa penampang lubang resapan

Sketsa penampang lubang resapan

Program pertama ini akan berjalan di Jakarta selama 4 bulan, yang secara beriringan dilaksanakan pula di Kampung Sirnagalih dan Kampung Pagentongan, Kelurahan Loji, kota Bogor. Sehingga secara bertahap kontribusi Erhalogy dalam mengatasi masalah lingkungan dan global warming dapat dirasakan oleh masyarakat yang cukup luas. ”Program ini diharapkan bisa berlangsung lancar sehingga bisa membuka wawasan kita semua bahwa melalui teknologi yang sederhana tetapi sangat inovatif, bisa memberikan kontribusi besar bagi penanganan masalah lingkungan. Bukan tidak mungkin, kita bisa membantu pemerintah dalam mengatasi masalah banjir yang kerap mengkhawatirkan warga Jakarta.” Sebagai brand yang menawarkan solusi bagi perawatan kesehatan kulit wanita dan pria Indonesia, Erhalogy sendiri, aku Djoko, akan terus mempertahankan komitmennya untuk mencari hal-hal yang inovatif agar dapat memberikan yang terbaik dan terbaru bagi para konsumen loyalnya.

Filed under: Air, Bencana Alam, Bumi, Cara Selamatkan Bumi, Gas Rumah Kaca, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Sebab Dan Akibat

MUSIM PANAS 2040, TIDAK ADA ES DI PERAIRAN KUTUB UTARA

Simulasi model iklim menunjukkan, pada musim panas 2040, hanya perairan di sekitar pantai utara Greenland dan Kanada yang dilapisi es.

Wilayah Kutub Utara bakal kehilangan seluruh daratan esnya mulai musim panas tahun 2040 jika pemanasan global tak dapat ditekan. Kemungkinan ini jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Bulan lalu, perairan yang dilapisi es di Kutub Utara hanya seluas dua juta kilometer persegi atau seluas Alaska. Ini di bawah luas rata-rata perairan beku di puncak musim panas dan tercatat dalam urutan keempat terbawah selama 29 tahun pengamatan melalui satelit.

Dengan membuat simulasi model iklim global, para peneliti Universitas Washington dan Universitas McGill bisa menganalisis pengaruh pemanasan global terhadap lautan beku di sekitar kutub. Hasil perhitungan yang dimuat dalam Geophysical Research Letters edisi 12 Desember menunjukkan, jika tingkat pelepasan emisi gas-gas rumah kaca tetap setinggi sekarang, es nyaris tak ditemukan lagi di wilayah Kutub Utara pada September 2040.

Pada sebuah simulasi diperlihatkan bahwa luas daratan es pada bulan September telah mengalami penurunan dari 5,9 juta kilometer persegi menjadi 1,9 kilometer persegi hanya dalam waktu sepuluh tahun. Pada puncak musim panas tahun 2040, es hanya ditemukan di sebagian kecil wilayah Greenland dan Kanada serta tidak ada es di perairan Kutub Utara.

Tebal lapisan es di permukaan laut saat itu juga hanya sekitar 0,9 meter. Sebagai pembanding, tebal lapisan es di permukaan perairan Kutub Utara saat puncak musim panas sekarang sekitar 3,6 meter.

Model iklim yang dibuat sebelumnya memprediksi hilangnya es di Kutub Utara baru akan terjadi pada 2060. Penelitian lainnya juga menghasilkan gambaran bahwa es hanya akan ditemui keberadaannya di Kutub Utara hingga tahun 2105 karena pemanasan global.

Emisi gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global sehingga es di Kutub Utara makin berkurang. Karena es mencair, perairan lebih luas dan menyerap panas lebih banyak. Hal inilah yang makin mempercepat pencairan es di perairan Kutub Utara.

“Perubahan tersebut benar-benar sangat cepat. Kita telah kehilangan banyak daratan es, namun selama beberapa dekade ke depan es mencair jauh lebih cepat,” kata Marika Holland, salah satu peneliti dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) Universitas Washington yang mempresentasikan temuannya pada Pertemuan Perhimpunan Geofisika Amerika.

Meski demikian, Kutub Utara masih punya peluang bertahan dari kondisi seburuk itu. Simulasi dengan tingkat emisi yang lebih rendah hanya menyebabkan proses pencairan yang lebih lambat. “Masyarakat masih bisa meminimalisasi pengaruh pada es perairan Kutub Utara,” ujar Holland.

Filed under: Bencana Alam, Bumi, Global Warming, Kerusakan Lingkungan, Lingkungan, Pemanasan Global, Sebab Dan Akibat